Sekolah adalah sebuah tempat individu-individu atau sekelompok individu melakukan aktivitas belajarnya, perkembangan belajarnya, prestasi belajarnya, diproses dengan sedemikian rupa sehingga membentuk menjadi pribadi-pribadi yang baik atau karakter-karakter yang baik, sangat berguna untuk masa depannya, itulah 'Siswa' atau yang sering juga disebut 'Pelajar'.
Predikat siswa atau pelajar merupakan kedudukan yang terhormat, orang tua merasa bangga jika anaknya sudah sekolah, bisanya mengenyam pendidikan dari TK, SD hingga ke Perguruan Tinggi. Namun, ada sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, seperti apakah akvitas belajar si anak di sekolahnya ?, Bagaimana dengan perkembangan belajarnya?, dan Prestasi apa saja yang telah dicapainya? Jika jawabannya baik, bagus, dan memuaskan maka si anak tersebut patut menjadi kebanggaan terutama dari orang tuanya, disinilah kedudukan terhormat yang dimaksudkan. Sebaliknya, si anak itu adalah badung, aktivitas belajarnya rendah, perkembangan belajarnya lamban, prestasi belajarnya sangat mengecewakan, ia tak pantas menerima kedudukan itu sebagai anak yang dibanggakan, yang pantas adalah menyusahkan orang tua.
Nah.... kalian semuanya pasti tidak ingin menjadi anak yang badung alias nakalnya kelewatan, susah diatur, malas belajar, sering minder, dll. Kebadungan seorang anak tidak hanya terlihat di sekolah, dilingkungan tempat tinggalnya barangkali juga demikian. Biasanya dua hal ini berkorelasi atau mempunyai hubungan yang erat, secara logika saja bisa dikaitkan kedua hal tersebut, misalnya si anak bertempat tinggal dilingkungan yang 'keras' dan kurang mendapatkan 'pembinaan' dari kedua orang tuanya akibatnya anak tersebut menjadi 'liar'. Hubungannya dengan sekolah, anak yang liar tersebut akan tetap berperangai/ bertingkah laku liar seperti yang dilakukan anak tersebut dilingkungan tempat tinggalnya.
Guru sebagai pendidik harus bekerja keras memerangi anak berkarakter 'badung' ini menjadi anak yang baik, mau berubah, menyadari kekeliruannya. Beginilah tantangan seorang guru pada saat ini menghadapi fenomena kebadungan anak-anak yang sudah melampui batas kewajaran, yang menurut penilaian penulis tidak pantas lagi menyandang predikat sebagai seorang pelajar.
Guru sebagai pendidik harus bekerja keras memerangi anak berkarakter 'badung' ini menjadi anak yang baik, mau berubah, menyadari kekeliruannya. Beginilah tantangan seorang guru pada saat ini menghadapi fenomena kebadungan anak-anak yang sudah melampui batas kewajaran, yang menurut penilaian penulis tidak pantas lagi menyandang predikat sebagai seorang pelajar.
Selanjutnya, perlu menjadi catatan juga bahwa kebanyakan guru tak berdaya menghadapi anak yang sangat badung, sebab si guru yang bersangkutan berpikir seratus kali jika ingin memberikan hukuman berat, jangan-jangan nanti kena HAM atau orang tuanya melapor ke polisi atau melakukan pembalasan dengan cara anarkis ke sekolah... duh.. susah juga ya! Yang patut dipertanyakan adakah 'Payung Hukum' untuk guru? Seperti apakah payung hukum itu ? Jika memang sudah ada, jadi boleh dong kami semua guru ini mendapatkan bukunya?
Jika memang tingkat kebadungan anak-anak sekolah sudah melampui batas kewajaran, berarti masalah tawuran , menggunakan narkoba, pergaulan bebas, bertato dll. merupakan skenario lanjutan dari kebadungan seorang anak yang memiliki kecendrungan berbuat lebih nekat. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan renungan. Tanks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.